Whatever your age, it’s never too late to start. 

Kutipan diatas saya ambil sebagai motivasi bagi kita yang sudah melewati masa-masa sekolah, telah menjadi sarjana, namun saat ini terjebak dalam rutinitas pekerjaan. Tidak banyak perusahaan di Indonesia ini yang memberi ruang bagi karyawannya untuk mengembangkan diri dan ilmu pengetahuannya sehingga akhirnya kita menyadari kemana saja dan untuk apa ilmu pengetahuan yang selama ini bertahun-tahun dipelajari namun sebahagian besar tidak dapat dimanfaatkan di dunia kerja.

Penulis sendiri memulai karir professionalnya sebagai mining engineering pada tahun 2010 di salah satu perusahaan tambang batubara terkemuka di Indonesia. Bekerja di perusahaan besar yang memiliki lebih dari 5000 karyawan, ternyata tidak menjamin ilmu pengetahuan yang selama ini dipelajari dibangku kuliah dapat diaplikasikannya dalam dunia pekerjaan, meskipun sebelum bekerja di perusahaan, penulis pernah menjadi salah satu asisten Professor di ITB selama setahun. Kembali lagi, penulis harus belajar bagaimana menggunakan software baru, bagaimana mengeksekusi rencana diatas kertas agar berjalan lancar, mempelajari istilah-istilah baru, dan mengenali karakteristik masing-masing partner kerja.

Kecepatan kita mempelajari hal-hal baru dalam pekerjaan bukan ditentukan dari seberapa besar IPK saat kuliah melainkan bagaimana cara belajar kita selama ini. Saat kita beranjak dewasa, cara belajar pun berubah. Itulah mengapa kita tidak perlu les tambahan lagi sewaktu kuliah. Meskipun pada kenyataannya masih ada segelintir mahasiswa baru yang mengambil les tambahan kalkulus, kimia dasar, dan fisika dasar. Berdasarkan pendapat Dr. Gary Kuhne dalam  “ADTED 460 – Introduction to Adult Education,” setidaknya ada 10 karakteristik cara belajar orang dewasa, yaitu : Self directed, Use experiences, More pragmatic, dan lainnya (lihat http://ctle.hccs.edu/facultyportal/tlp/seminars/tl1071SupportiveResources/Ten_Characteristics_Adults-Learners.pdf )

Pada dasarnya, kebanyakan orang dewasa “Tidak Mau Digurui”, oleh sebab itu mereka lebih banyak mencari sendiri tentang apa yang ingin diketahuinya. Lewat tulisan ini, penulis akan membagi pengalamannya sebagai mental athlete (sebutan untuk peserta memory championship) dalam mempelajari hal-hal baru selama ini. Bukan menggurui, karena apa yang penulis sampaikan adalah pengalamannya sejak tahun 2002 dan telah berkompetisi di 7 negara berbeda yang boleh diambil maupun tidak oleh para pembaca.

“You don’t have to be great to start, but you have to start to be great” ― Zig Ziglar

Memory sports yang telah penulis dalami ini berawal dari seorang Doctor Neuroscience yang akrab dipanggil DR. Yip. Ada 3 poin utama dalam metode ini, yaitu Asosiasi, Imajinasi, dan Lokasi. Pola ini akan selalu berulang selama proses belajar yang telah berlangsung selama 13 tahun. Banyak yang salah mengerti dengan menganggap penulis hanya hafal tanpa memahami, padahal kembali lagi pola yang diadopsi adalah Asosiasi, Imajinasi, dan Lokasi, sehingga ilustrasi terjadi didalam otak kita sekaku apapun materi pembelajaran yang diberikan. Bahkan pola ini pun diterapkan dalam mempelajari subjek-subjek yang bersifat engineering.

Mari kita telusuri lebih dalam tentang karakteristik cara belajar melalui diagram dibawah ini.

memory

Secara kognitif, Memory Sports memiliki gaya “Verbalisers” dan “Imagers”. Untuk menjelaskan ini, coba ingat kembali pengalaman kita saat menonton film, pernahkah kita dengan sengaja untuk menghafal urutan setiap cerita film yang ditonton?, tentunya tidak, tapi kita justru ingat.

Disisi Intelegensia, memory sports mengasah lebih dalam terkait kecerdasan visual/spatial lewat metode lokasi, dan linguistic lewat metode substitusi. Pendekatan cara belajar ialah “strategic”, itulah kenapa sebahagian besar mental athlete lebih cepat dalam menyelesaikan tantangan-tantangan ilmu baru untuk dikuasai. “Strategic” karena belajar dengan melihat big picture terlebih dahulu (mind mapping) kemudiaan masuk ke detil-detil penting (memory techniques).

Mendalami memory sports , membuat kita cenderung menjadi orang dengan learning style tipe 1 dan 3. Learning style Imaginative mendorong kita menjadi manusia yang lebih kreatif dan penuh ide. Lalu kenapa juga memory sports menjadikan kita seseorang dengan learning style “practical”? ,karena memory sports mendisiplinkan kami untuk terus berlatih hingga mencapi titik “treshold”, titik dimana setelah berhasil dilampaui, kita tidak perlu sekaku dan sesering saat tahap-tahap awal belajar. Coba ingat saat pertama sekali belajar menyetir mobil atau mengendarai motor?, setelah titik treshold terlampaui, meskipun dalam 2 – 3 bulan kita tidak pernah menyetir, kita tetap bisa dengan mudah mengendarai  mobil.

Memory sports saat ini telah menjadi opsi bagi kita untuk mengubah cara belajar, mempercepat proses pemahaman, mengefektifkan kita dalam pekerjaan. Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat dan menginspirasi kita semua untuk memperdalaminya.

Salam Memory,

Yudi Lesmana

Grandmaster of Memory

Ketua Asosiasi Memory Sports Indonesia

Email : yudilesmana@imsa.or.id , yudilesmana2005@yahoo.co.id

Informasi Workshop Memory terdekat : http://www.ingatangajah.com/workshop-melejitkan-potensi-daya-ingat-level-1