Bismillahirrohmanirrohim,

Assalammu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Memory Sports di Indonesia sudah ada sejak tahun 2001, dan alhamdulillah saya menjadi bahagian dari permulaan ini. Saat itu, metode-metode memory mulai diajarkan dan saya berterima kasih kepada Dr Yip Swe Choi yang menginspirasi saya untuk pertama sekali mengikuti World Memory Championship pada tahun 2003 di Kuala Lumpur. Umur saya saat itu 14 tahun dan atas kuasa Allah SWT saya mendapat gelar Grandmaster of Memory. Oleh sebab itu, jika teman-teman memory sports bertemu saya di kompetisi-kompetisi Internasional, mungkin WMSC ID saya cukup jadul yaitu 443 dan saat ini WMSC ID sudah berkepala 2000-an bahkan akan mencapai 3000-an.
Tahun 2014 adalah titik balik perkembangan memory sports di Indonesia. Berbekal dukungan para orang tua murid dan perusahaan tempat saya bekerja waktu itu, kami mendirikan Asosiasi Memory Sports Indonesia yang kini berganti nama menjadi Indonesia Memory Sports Council pada tahun 2015 untuk melegalisasi akreditasi yang diberikan World Memory Sports Council kepada saya pada 14 Desember 2014 di Hainan, China.

Flashback ke tahun 2014
Beberapa peristiwa penting yang terjadi sepanjang 2014 dan 2015 perlu saya sampaikan melalui tulisan ini. Tahun 2014, kami dibantu oleh satu perusahaan besar di bidang pertambangan, Kaltim Prima Coal (KPC) untuk meningkatkan kualitas daya saing anak-anak di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tidak tanggung-tanggung, kami berhasil meraih puluhan prestasi internasional lewat Tokyo Friendly Memory Championship 2014, Phillipphine Int’l Open 2014, Hongkong Int’l Open 2014, dan World Memory Championship 2014. Bukan hanya medali emas, perak, dan perunggu, kami pun meraih dua rekor dunia anak dalam bidang daya ingat lewat M. Dzakiendra (saat memecahkan berumur 11 tahun) dan Shafa Annisa (saat memecahkan berumur 10 tahun). Rekor yang dipecahkan sebelumnya dipegang oleh Jerman dan China, terbayang bukan bagaimana rajinnya anak-anak ini berlatih otak pada saat itu. Pada November 2014, kami juga mengadakan 1st Indonesia Memory Championship atas dukungan KPC dan Kompas Gramedia lewat penerbit buku saya KPG.
Sekarang saya telah menjadi full time memory trainer, bukan lagi menyambil sebagai mining engineer. Saya merasa perlu ada orang-orang yang serius mempopulerkan memory sports di Indonesia karena manfaat yang dihasilkan akan sangat membantu generasi-generasi penerus bangsa dalam belajar. “Learning how to learn” adalah skill yang paling utama yang semestinya dimiliki oleh siapapun sehingga ilmu baru, tantangan baru akan lebih mudah untuk kita hadapi.

Kaledioskop

Tim Memory Sports Indonesia di 2nd Hongkong Int’l Open 2014

Tahun 2015, Tahun ke-2 Memory Sports Indonesia
Kembali kepada tugas yang saya emban sebagai President Indonesia Memory Sports Council di Tahun 2015. Kami mengawalinya dengan mempersiapkan anak-anak, remaja, dan dewasa sejak bulan Januari 2015 untuk bertanding di Singapore Open Memory Championship pada bulan Maret. Juara kategori remaja berhasil kami amankan lewat seorang siswi sma dari Kaltim, Qonita F., yang juga merupakan anak disleksia pada posisi pertama dan Yudha Hasya, siswa sma dari Jakarta pada posisi ke-3. Apresiasi saya yang tinggi kepada Prof Ismu selaku atase pendidikan Indonesia sewaktu itu yang menerima kami untuk tinggal di KBRI Singapore dan media grup Kompas yang berbaik hati memberitakan hasil kejuaraan ini pada waktu itu.
Tawaran variasi baru dalam mengasah otak pun datang lewat Record Holder Republic (RHR) Indonesia yang mengajak saya untuk membuat acara Pemecahan Rekor Dunia Daya Ingat. Tawaran ini pun disambut dengan baik oleh Kepustakaan Populer Gramedia dan Gramedia Central Park Mall, sehingga pada Bulan Juli 2015, dalam keadaan berpuasa Ramadhan, kami berhasil mencetak seorang remaja berumur 14 tahun dari Jakarta, Fakhri Shafly E. sebagai pemegang Rekor Dunia dalam Mengingat Password terbanyak dalam waktu 5 menit. Persiapan dilakukan juga tidak lama, hanya 1,5 bulan sebelum acara dimulai.

Kaledioskop1Fakhri (tengah) , Pemegang Rekor Dunia Mengingat Password

Kami mengakui tahun 2015 ini terasa sangat sulit untuk mencari dana memberangkatkan Tim Memory Sports Indonesia ke berbagai ajang Memory Championship di luar. Bahkan kami juga terpaksa menunda pelaksanaan 2nd Indonesia Memory Championship karena khawatir dengan beban dana yang akan ditanggung organisasi. Namun kami tidak kehabisan akal, karena pada tahun ini kami mencoba membuat Mini Memory Championship (5 disciplines) pada bulan Juli dimana biaya pendaftaran yang kami kumpulkan, seluruhnya dihadiahkan untuk Juara 1,2 , dan 3 yang mana pada saat itu Shafa Annisa (11 tahun) berhasil menjadi juara 1, Fransiska Pusparini (42 tahun) menjadi juara 2, dan Dewi (24 tahun) di juara 3.
Kejuaraan Internasional terakhir kami di tahun 2015 ini ialah Asia Memory Championship pada Bulan Agustus. Kami benar-benar mengeluarkan biaya pribadi untuk kejuaraan ini tanpa bantuan sponsor, tanpa bantuan pemerintah ataupun KJRI Hongkong. Hasilnya bagaimana?, alhamdulillah Shafa berhasil mencetak rekor dunia baru kategori anak dengan mengingat 88 wajah dan nama dalam waktu 15 menit. Shafa juga meraih 1 medali emas pada cabang wajah-nama dan 1 perak pada cabang spoken number (angka acak yang diucapkan dengan interval 1 detik). Saya juga berkompetisi saat itu, dengan berhasil meraih gelar tambahan Asian Master Memory yang saat ini hanya ada 16 orang di Dunia serta medali emas pada cabang ingatan kata acak.

Kaledioskop2

Asia Memory Championship 2015

Kami memang tidak mengirimkan tim pada World Memory Championship pada Bulan Desember ini di China. Bukan karena tidak mau, tapi kami sudah berusaha mencari dana kesana-kemari namun tidak juga terkumpulkan untuk memberangkatkan tim. Bahkan 3 minggu sebelum tulisan ini saya buat, saya telah bertemu Bapak Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menjelaskan perihal memory sports di Indonesia berikut dengan prestasi-prestasi yang telah berhasil di raih.

Harapan dan Gambaran Program 2016
Apapun yang telah terjadi di tahun ini, patut kami syukuri, dan hal yang paling terpenting adalah tetap berusaha mengembangkan memory sports di tahun 2016. Kami tidak hanya mempopulerkan memory sports lewat kompetisi, namun juga lewat buku yang saya tulis. Penjualan buku seri “Memorizing Like an Elephant” sudah mencapai puluhan ribu copy di Indonesia yang menunjukkan banyaknya orang yang ingin tahun metode-metode apa saja yang ada dalam mempermudah seseorang mengingat sesuatu. Saat ini kami juga sedang mengembangkan 3 produk baru yaitu “Memory Board Games”, “Memory Vocabullaries”, dan “Memory Fun Games” yang beberapa gamesnya telah ditayangkan sebanyak 30 episode di Rajawali TV dan pada sabtu-minggu (19-20 desember 2015) akan menjadi 2 episode penutupnya. Butuh edukasi pasar yang sabar untuk menjadikan memory sports sebuah trend setter baru di Indonesia sehingga semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya.

Kaledioskop3Contoh Produk yang akan dikeluarkan tahun 2016, Memory Board Games

Tahun 2016 kami akan fokus melakukan penetrasi ke sekolah-sekolah, menjadikan memory sports kegiatan ekskul di sekolah-sekolah Jabodetabek. Metode-metode yang kami sampaikan pun mulai dirasakan manfaatnya bagi dunia Profesional sehingga kami pun akan rutin memberikan pelatihan-pelatihan kepada kalangan ini. Dana-dana yang dihasilkan dari berbagai program pelatihan ini akan di sisihkan untuk kembali membangun Tim Memory Sports Indonesia yang lebih solid dalam rangka berkompetisi di ajang-ajang memory sports baik di dalam negeri dan luar negeri sepanjang tahun 2016.
Selaku Ketua Umum Indonesia Memory Sports Council, saya berharap para penggiat kegiatan ini di dunia semakin solid ke depannya dan menjunjung tinggi prinsip sportivitas dan fairness. Khususnya teman-teman saya, President National Council yang tergabung dalam Asia Memory Sports Council, Andy & Angel dari Hongkong, Wellon Chou dari Singapore, Teo Kim Foo & Vincent dari Malaysia, AB. Bonita dari Philippine, Khatnaa dari Mongolia, Takeru dari Japan, dan Ken dari Taiwan, terima kasih atas dedikasi kalian dalam bidang ini, mari bersama-sama mengembangkan ini di negara kita masing-masing, dan tetap saling bantu satu sama lain.

Salam Memory,
Yudi Lesmana
President of Indonesia Memory Sports Council
WMSC ID 443